Menu
Info Sekolah
Minggu, 26 Mei 2024
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia

Tradisi Leluhur: Perayaan Grebeg Maulud Di Keraton Yogyakarta

Terbit : Minggu, 17 Maret 2024 - Kategori : Blog

Tradisi Leluhur: Perayaan Grebeg Maulud di Keraton Yogyakarta

Grebeg Maulud merupakan salah satu tradisi leluhur yang masih dilestarikan di Keraton Yogyakarta. Perayaan ini diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Asal-usul dan Makna

Tradisi Grebeg Maulud berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada abad ke-17. Sultan Agung mengadopsi tradisi ini dari Kesultanan Demak sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW dan penyebaran agama Islam.

Perayaan Grebeg Maulud memiliki makna filosofis yang mendalam. Grebeg berasal dari kata "greged" yang berarti "merebut". Dalam konteks ini, merebut dimaknai sebagai upaya manusia untuk merebut kembali fitrahnya yang suci dan meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.

Rangkaian Acara

Perayaan Grebeg Maulud di Keraton Yogyakarta berlangsung selama beberapa hari dengan rangkaian acara yang telah ditetapkan secara turun-temurun.

1. Wilujengan

Acara ini diawali dengan Wilujengan, yaitu doa bersama yang dipimpin oleh Sultan dan diikuti oleh seluruh kerabat keraton, abdi dalem, dan masyarakat umum. Doa ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.

2. Miyosan

Pada acara Miyosan, Sultan akan membawa keluar pusaka keraton, yaitu Gunungan Jumenengan dan Gunungan Gepak. Gunungan ini terbuat dari hasil bumi seperti padi, palawija, dan sayuran, yang melambangkan kemakmuran dan kesuburan.

3. Grebeg

Acara puncak Grebeg Maulud adalah Grebeg, yaitu pembagian Gunungan Jumenengan dan Gunungan Gepak kepada masyarakat. Masyarakat berebut untuk mendapatkan gunungan tersebut karena dipercaya membawa berkah dan rezeki.

4. Prosesi Kirab

Setelah Grebeg, dilanjutkan dengan Prosesi Kirab. Sultan dan rombongan abdi dalem keraton akan berjalan kaki menuju Masjid Gede Kauman untuk melaksanakan salat Jumat. Prosesi ini diiringi dengan alunan gamelan dan tari-tarian tradisional.

5. Siraman Pusaka

Pada malam hari, diadakan acara Siraman Pusaka. Pusaka keraton dimandikan dengan air kembang dan doa-doa. Acara ini bertujuan untuk membersihkan pusaka dari segala kotoran dan memohon berkah.

6. Sendratari

Sebagai penutup rangkaian acara, digelar Sendratari Ramayana. Sendratari ini menceritakan kisah epos Ramayana yang dipadukan dengan tarian dan musik tradisional. Sendratari ini bertujuan untuk menghibur masyarakat dan menyampaikan pesan moral.

Nilai-nilai yang Dikandung

Perayaan Grebeg Maulud tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai tersebut antara lain:

  • Penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW: Perayaan ini merupakan bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panutan umat Islam.
  • Gotong royong: Rangkaian acara Grebeg Maulud melibatkan banyak pihak, mulai dari keraton hingga masyarakat umum, yang menunjukkan semangat gotong royong.
  • Keberagaman: Perayaan ini diikuti oleh masyarakat dari berbagai latar belakang, menunjukkan toleransi dan keberagaman di Yogyakarta.
  • Pelestarian budaya: Grebeg Maulud merupakan bagian dari warisan budaya Yogyakarta yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Kesimpulan

Perayaan Grebeg Maulud di Keraton Yogyakarta merupakan tradisi leluhur yang kaya akan makna filosofis dan nilai-nilai luhur. Tradisi ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW dan menjaga kelestarian budaya bangsa.

FAQ Unik

  1. Apakah ada makna khusus dari bentuk Gunungan Jumenengan dan Gunungan Gepak?

    • Ya, Gunungan Jumenengan berbentuk kerucut dan melambangkan Gunung Merapi sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran. Sedangkan Gunungan Gepak berbentuk persegi dan melambangkan Gunung Lawu sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan.
  2. Mengapa masyarakat berebut Gunungan Jumenengan dan Gunungan Gepak?

    • Masyarakat percaya bahwa mendapatkan bagian dari gunungan tersebut akan membawa berkah dan rezeki.
  3. Apakah ada pantangan saat mengikuti perayaan Grebeg Maulud?

    • Ya, masyarakat tidak diperbolehkan menggunakan pakaian serba hitam atau putih karena dianggap tidak sopan.
  4. Apa yang dilakukan masyarakat setelah mendapatkan bagian dari Gunungan Jumenengan dan Gunungan Gepak?

    • Masyarakat biasanya akan menyimpan bagian tersebut di rumah atau membagikannya kepada keluarga dan tetangga.
  5. Apakah perayaan Grebeg Maulud hanya dilakukan di Keraton Yogyakarta?

    • Tidak, perayaan serupa juga dilakukan di beberapa daerah lain di Yogyakarta, seperti Masjid Gede Kauman dan Masjid Pathok Negoro.
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar