Menu
Info Sekolah
Minggu, 26 Mei 2024
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia

Pergulatan Mistis Dalam Tradisi Saparan Bekakak

Terbit : Minggu, 12 Mei 2024 - Kategori : Blog

Pergulatan Mistis dalam Tradisi Saparan Bekakak

Saparan Bekakak merupakan sebuah tradisi ritual yang diwariskan secara turun-temurun di Desa Bekakak, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi ini diselenggarakan setiap tahun pada bulan Sapar (kalender Jawa) sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah dan memohon keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

Salah satu aspek unik dari Saparan Bekakak adalah adanya pergulatan mistis yang menjadi inti dari ritual tersebut. Pergulatan ini melibatkan dua orang yang disebut "bekakak" yang mengenakan topeng menyerupai burung bekakak. Mereka bergulat di tengah-tengah lapangan yang dikelilingi oleh masyarakat yang menyaksikan.

Pergulatan mistis ini dipercaya memiliki makna simbolis yang mendalam. Bekakak melambangkan kekuatan alam, khususnya kekuatan air dan tanah. Pergulatan mereka menggambarkan pertarungan antara kekuatan positif dan negatif yang ada di dalam diri manusia.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pergulatan bekakak dapat memberikan pertanda tentang kondisi masyarakat di tahun mendatang. Jika bekakak yang mewakili kekuatan positif menang, maka masyarakat akan mengalami tahun yang baik dengan hasil panen yang melimpah dan kesejahteraan yang meningkat. Sebaliknya, jika bekakak yang mewakili kekuatan negatif menang, maka masyarakat akan mengalami tahun yang sulit dengan berbagai masalah dan bencana.

Selain makna simbolis, pergulatan mistis dalam Saparan Bekakak juga dipercaya memiliki kekuatan gaib. Masyarakat percaya bahwa pergulatan tersebut dapat menangkal roh-roh jahat dan membawa keberuntungan bagi masyarakat.

Proses persiapan untuk pergulatan mistis ini sangat sakral dan penuh dengan ritual. Bekakak yang terpilih harus menjalani serangkaian laku prihatin, seperti puasa dan meditasi. Mereka juga harus mempersiapkan topeng bekakak yang akan mereka kenakan saat pergulatan.

Topeng bekakak yang digunakan dalam ritual ini sangat unik dan memiliki makna simbolis. Topeng tersebut terbuat dari kayu jati yang diukir dengan detail yang rumit. Bagian atas topeng menyerupai kepala burung bekakak, lengkap dengan paruh dan jambul. Bagian bawah topeng menutupi wajah pemakainya dan dihiasi dengan berbagai ornamen.

Pergulatan mistis dalam Saparan Bekakak biasanya berlangsung selama beberapa jam. Selama pergulatan, bekakak akan melakukan gerakan-gerakan yang menyerupai burung bekakak, seperti mengepakkan sayap dan mematuk. Mereka juga akan mengeluarkan suara-suara yang menyerupai kicauan burung bekakak.

Masyarakat yang menyaksikan pergulatan ini akan memberikan dukungan dan semangat kepada bekakak yang mewakili kekuatan positif. Mereka akan berteriak dan bersorak-sorai ketika bekakak tersebut berhasil mengalahkan lawannya.

Setelah pergulatan selesai, bekakak akan melepaskan topeng mereka dan kembali ke kehidupan normal. Namun, pengalaman mistis yang mereka alami selama pergulatan akan tetap tersimpan dalam ingatan mereka.

Tradisi Saparan Bekakak dengan pergulatan mistisnya merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Bekakak. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki makna simbolis dan spiritual yang mendalam.

Pergulatan mistis dalam Saparan Bekakak mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif dalam diri manusia. Tradisi ini juga mengingatkan masyarakat untuk selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki dan untuk selalu memohon keselamatan dan kesejahteraan.

Selain itu, Saparan Bekakak juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Melalui ritual ini, masyarakat dapat berkumpul bersama dan berbagi kebahagiaan dan harapan.

Tradisi Saparan Bekakak dengan pergulatan mistisnya telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016. Pengakuan ini semakin memperkuat nilai dan pentingnya tradisi ini bagi masyarakat Desa Bekakak dan Indonesia secara keseluruhan.

Pergulatan Mistis dalam Tradisi Saparan Bekakak: Ritual Mistis untuk Menjaga Keseimbangan Alam

Tradisi Saparan Bekakak merupakan sebuah ritual mistis yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Ritual ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan alam dan melindungi masyarakat dari segala marabahaya. Pergulatan mistis yang menjadi bagian dari tradisi ini merupakan simbolisasi dari pertempuran antara kekuatan baik dan jahat.

Asal-usul Tradisi Saparan Bekakak

Tradisi Saparan Bekakak diperkirakan telah ada sejak abad ke-16. Ritual ini pertama kali dilakukan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan ritual ini untuk mengusir wabah penyakit yang melanda masyarakat pada saat itu.

Menurut legenda, Sunan Kalijaga menciptakan sosok Bekakak, seekor burung mistis yang memiliki kekuatan untuk melawan roh jahat. Bekakak ini kemudian menjadi simbol dari kekuatan baik dalam tradisi Saparan Bekakak.

Pelaksanaan Ritual Saparan Bekakak

Ritual Saparan Bekakak biasanya dilakukan pada bulan Sapar, bulan kedua dalam kalender Jawa. Ritual ini melibatkan beberapa tahapan, antara lain:

  • Pembuatan Sesajen: Masyarakat menyiapkan berbagai sesajen, seperti nasi tumpeng, buah-buahan, dan bunga, sebagai persembahan kepada roh-roh leluhur dan kekuatan gaib.
  • Pencak Bekakak: Pencak Bekakak adalah tarian mistis yang diperagakan oleh dua orang penari yang mengenakan kostum burung Bekakak. Tarian ini menggambarkan pertempuran antara kekuatan baik dan jahat.
  • Pergulatan Mistis: Setelah Pencak Bekakak selesai, para penari melakukan pergulatan mistis. Pergulatan ini dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan bagi masyarakat.

Makna Pergulatan Mistis

Pergulatan mistis dalam tradisi Saparan Bekakak memiliki makna simbolis yang mendalam. Pertempuran antara Bekakak dan roh jahat merepresentasikan perjuangan manusia melawan kekuatan negatif dalam hidup. Bekakak, sebagai simbol kekuatan baik, diharapkan dapat mengalahkan roh jahat dan menjaga keseimbangan alam.

Selain itu, pergulatan mistis juga diyakini dapat membawa manfaat bagi masyarakat, seperti:

  • Melindungi dari bencana alam dan wabah penyakit
  • Menjaga kesuburan tanah dan hasil panen
  • Menciptakan harmoni dan kesejahteraan dalam masyarakat

Kesimpulan

Tradisi Saparan Bekakak merupakan sebuah ritual mistis yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Ritual ini memiliki kekuatan untuk menjaga keseimbangan alam dan melindungi masyarakat dari segala marabahaya. Pergulatan mistis yang menjadi bagian dari tradisi ini merupakan simbolisasi dari pertempuran antara kekuatan baik dan jahat, yang diharapkan dapat membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

FAQ Unik

  1. Apakah Bekakak benar-benar ada?
    Bekakak adalah sosok mistis yang dipercaya memiliki kekuatan untuk melawan roh jahat. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung keberadaan Bekakak secara fisik.

  2. Mengapa ritual ini dilakukan pada bulan Sapar?
    Bulan Sapar dipercaya sebagai bulan yang sakral dan memiliki kekuatan gaib yang kuat. Oleh karena itu, ritual Saparan Bekakak dilakukan pada bulan ini untuk memanfaatkan kekuatan gaib tersebut.

  3. Apakah ritual ini berbahaya?
    Ritual Saparan Bekakak tidak berbahaya bagi masyarakat yang berpartisipasi. Namun, orang yang memiliki riwayat gangguan mental atau kejiwaan disarankan untuk tidak mengikuti ritual ini.

  4. Apakah tradisi ini masih dipraktikkan saat ini?
    Tradisi Saparan Bekakak masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini. Namun, pelaksanaannya telah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan nilai-nilai modern.

  5. Apa manfaat mengikuti ritual Saparan Bekakak?
    Selain membawa keberuntungan dan kesejahteraan, ritual Saparan Bekakak juga dapat mempererat hubungan antarwarga dan melestarikan budaya tradisional Jawa.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar