Menu
Info Sekolah
Minggu, 26 Mei 2024
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia
  • Padepokan Tapakwangu Kedung Pengilon Kec Pangkah Kabupaten Tegal, Slawi, Indonesia

Mistisnya Tradisi Saparan Bekakak Di Yogyakarta

Terbit : Jumat, 26 April 2024 - Kategori : Blog

Mistisnya Tradisi Saparan Bekakak: Ritual Kuno di Yogyakarta

Di tengah hiruk pikuk kota Yogyakarta, terdapat sebuah tradisi mistis yang masih dijalankan hingga kini, yaitu Saparan Bekakak. Ritual kuno ini merupakan perwujudan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan supranatural yang dipercaya dapat memberikan perlindungan dan keselamatan.

Asal-Usul Tradisi Saparan Bekakak

Tradisi Saparan Bekakak diperkirakan telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9 Masehi. Menurut legenda, tradisi ini berawal dari seorang pendeta bernama Ki Ageng Mangir yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia dapat memanggil roh-roh halus, termasuk bekakak (sejenis burung gagak).

Suatu ketika, Ki Ageng Mangir bertapa di hutan Alas Purwo. Ia dikejutkan oleh sekelompok bekakak yang hinggap di pohon di dekatnya. Bekakak-bekakak tersebut mengeluarkan suara yang aneh dan menyeramkan, seolah-olah ingin menyampaikan pesan.

Ki Ageng Mangir kemudian menafsirkan suara bekakak tersebut sebagai peringatan akan datangnya bahaya. Ia pun segera kembali ke keraton dan memperingatkan Raja Mataram tentang ancaman yang akan datang. Berkat peringatan Ki Ageng Mangir, kerajaan dapat bersiap menghadapi serangan musuh dan berhasil menangkisnya.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Ki Ageng Mangir menetapkan hari Sapar (hari ke-15 dalam kalender Jawa) sebagai hari untuk melakukan ritual Saparan Bekakak. Ritual ini bertujuan untuk menolak bala dan memohon perlindungan dari roh-roh halus.

Prosesi Ritual Saparan Bekakak

Ritual Saparan Bekakak biasanya dilakukan di bulan Sapar, tepatnya pada hari Jumat Kliwon. Prosesi ritual ini cukup rumit dan melibatkan beberapa tahapan, antara lain:

  • Pembuatan Sesaji: Masyarakat menyiapkan berbagai sesaji, seperti nasi tumpeng, jajanan pasar, dan kembang setaman. Sesaji ini dipersembahkan kepada roh-roh halus sebagai bentuk penghormatan dan permohonan.
  • Pemanggilan Roh Bekakak: Seorang pawang atau dukun yang disebut "juru kunci" akan melakukan ritual pemanggilan roh bekakak. Ritual ini dilakukan dengan membakar kemenyan dan melantunkan mantra-mantra tertentu.
  • Penari Bekakak: Setelah roh bekakak dipanggil, akan muncul seorang penari yang mengenakan topeng bekakak. Penari ini akan menari dengan gerakan-gerakan yang aneh dan menyeramkan, seolah-olah sedang dirasuki oleh roh bekakak.
  • Pemberian Sesaji: Sesaji yang telah disiapkan kemudian diberikan kepada penari bekakak sebagai bentuk persembahan. Penari bekakak akan memakan sesaji tersebut dan membagikannya kepada masyarakat yang hadir.
  • Penolak Bala: Setelah ritual selesai, masyarakat akan membawa pulang sesaji yang telah dibagikan oleh penari bekakak. Sesaji tersebut dipercaya dapat menolak bala dan memberikan perlindungan bagi rumah dan keluarga mereka.

Kepercayaan Masyarakat

Masyarakat Yogyakarta percaya bahwa ritual Saparan Bekakak memiliki kekuatan mistis yang dapat memberikan perlindungan dan keselamatan. Mereka percaya bahwa roh-roh halus yang dipanggil dalam ritual tersebut akan membantu mereka menolak bala, menyembuhkan penyakit, dan memberikan keberuntungan.

Kepercayaan ini semakin kuat karena ritual Saparan Bekakak seringkali dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa aneh dan mistis. Misalnya, penari bekakak yang tiba-tiba kesurupan, sesaji yang hilang secara misterius, atau suara-suara aneh yang terdengar selama ritual.

Pelestarian Tradisi

Tradisi Saparan Bekakak terus dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta hingga saat ini. Ritual ini tidak hanya dianggap sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada leluhur dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

Pemerintah Daerah Yogyakarta juga mendukung pelestarian tradisi Saparan Bekakak. Ritual ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014.

Pelestarian tradisi Saparan Bekakak sangat penting untuk menjaga keberagaman budaya Indonesia dan memperkuat identitas masyarakat Yogyakarta. Tradisi ini juga menjadi pengingat akan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap kekuatan supranatural yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kesimpulan

Tradisi Saparan Bekakak merupakan ritual mistis yang masih dijalankan oleh masyarakat Yogyakarta hingga kini. Ritual ini merupakan perwujudan kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan supranatural yang dipercaya dapat memberikan perlindungan dan keselamatan. Prosesi ritual yang rumit dan kepercayaan masyarakat yang kuat membuat tradisi Saparan Bekakak menjadi salah satu warisan budaya yang unik dan berharga di Indonesia.

Mistisnya Tradisi Saparan Bekakak di Yogyakarta

Tradisi Saparan Bekakak merupakan salah satu ritual budaya yang unik dan sarat akan nilai mistis di Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Sapar (kalender Jawa) di kawasan Keraton Yogyakarta.

Asal-Usul Tradisi

Tradisi Saparan Bekakak dipercaya berawal dari legenda tentang seorang putri Keraton bernama Roro Mendut. Konon, Roro Mendut memiliki seorang abdi bernama Bekakak yang sangat setia. Suatu ketika, Bekakak dituduh melakukan kesalahan dan dihukum mati.

Namun, sebelum dieksekusi, Bekakak memohon kepada Roro Mendut agar dibebaskan. Roro Mendut yang iba kemudian membebaskan Bekakak dan mengusirnya dari Keraton. Bekakak pun pergi ke hutan dan hidup sebagai pertapa.

Untuk mengenang kesetiaan Bekakak, Roro Mendut menetapkan tradisi Saparan Bekakak. Dalam tradisi ini, akan dilepaskan burung bekakak sebagai simbol kebebasan dan kesetiaan.

Ritual Tradisi

Ritual Saparan Bekakak dilaksanakan dengan serangkaian prosesi yang sakral. Prosesi ini diawali dengan doa dan selamatan di Masjid Gede Kauman. Setelah itu, rombongan Keraton yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono X akan menuju ke Bangsal Kencana Keraton.

Di Bangsal Kencana, akan dilakukan prosesi pelepasan burung bekakak. Burung-burung bekakak yang telah diberkati oleh Sultan akan dilepaskan ke udara sebagai simbol kebebasan dan kesetiaan.

Selain pelepasan burung bekakak, dalam tradisi Saparan Bekakak juga dilakukan beberapa ritual lainnya, seperti:

  • Pembacaan doa dan kidung
  • Pemberian sesaji kepada roh leluhur
  • Persembahan tarian dan musik tradisional

Nilai Mistis

Tradisi Saparan Bekakak memiliki nilai mistis yang kuat. Masyarakat Yogyakarta percaya bahwa burung bekakak yang dilepaskan dalam ritual ini dapat membawa keberuntungan dan perlindungan. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat menolak bala dan mendatangkan rezeki.

Pelestarian Tradisi

Tradisi Saparan Bekakak merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Yogyakarta. Pemerintah Daerah Yogyakarta dan Keraton Yogyakarta terus berupaya melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya kota.

Kesimpulan

Tradisi Saparan Bekakak merupakan ritual budaya yang unik dan sarat akan nilai mistis di Yogyakarta. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya kota. Ritual pelepasan burung bekakak dalam tradisi ini melambangkan kebebasan, kesetiaan, dan harapan akan keberuntungan dan perlindungan.

FAQ Unik

  1. Mengapa burung bekakak dipilih sebagai simbol dalam tradisi ini?

    • Burung bekakak dipilih karena dipercaya sebagai jelmaan roh leluhur yang setia.
  2. Apa saja sesaji yang diberikan dalam ritual Saparan Bekakak?

    • Sesaji yang diberikan biasanya berupa makanan tradisional, seperti nasi tumpeng, ingkung ayam, dan jajanan pasar.
  3. Apakah ada pantangan khusus selama ritual Saparan Bekakak?

    • Ya, ada beberapa pantangan, seperti tidak boleh berbicara kasar, tidak boleh meludah, dan tidak boleh membuang sampah sembarangan.
  4. Bagaimana cara masyarakat Yogyakarta mempersiapkan diri untuk ritual Saparan Bekakak?

    • Masyarakat biasanya akan melakukan doa dan selamatan di rumah mereka sebelum menghadiri ritual.
  5. Apakah tradisi Saparan Bekakak hanya dilaksanakan di Keraton Yogyakarta?

    • Tidak, tradisi ini juga dilaksanakan di beberapa daerah lain di Yogyakarta, seperti di Imogiri dan Bantul.
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar